MAKALAH
NUZULUL QURAN
DAN PEMAHAMAN ISLAM
DI SUSUN OLEH :
1. Abdul Rochim
2. Ade Hendi. S
3. Ahmad Muchowifil Chabasyi
4. Ainun Najib
5. Asadi Sopyan
6. Alif Imamatul Fa’izzah
7. Atik Husniati
8. Aniyatur Rohmah
S1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) IBRAHIMY
GENTENG BANYUWANGI
TAHUN PELAJARAN
2013-2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Kita panjatkan puja dan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga kami
penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Tidak lupa shalawat serta salam selalu kita
curahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membimbing
umatnya di jalan yang benar.
Kami ucapkan terimakasih kepada
pihak-pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini
kami susun berdasarkan tugas dari program studi Ulumul Quran. “Nuzulul Quran dan Pemahaman islam ” merupakan
judul yang kami berikan untuk Makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi khalayak.
Kami atas nama Penyusun tidak lupa meminta maaf apabila banyak kesalahan
dalam penyusunan makalah ini.
Wassalamu’alaikum.
Wr. Wb.
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................
KATA PENGANTAR .................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
- Latar
Belakang ..................................................................................
- Rumusan
Makalah ............................................................................
- Tujuan
...............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
- Pengertian
.........................................................................................
- Tahapan
dan Cara-cara Turunnya Al-Qur’an ....................................
- Sejarah
Pemeliharaan Al-Qur’an .......................................................
- Perkembangan
Tulisan Al-Qur’an......................................................
BAB III PENUTUP
- Kesimpulan
.......................................................................................
- Saran
.......................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang masalah
Dalam mempelajari ilmu Al-Quran,
ada beberapa hal yang penting untuk dipelajari dan salah satunya adalah
bagaimana Al-Quran diturunkan dan bagaimana Al-Quran itu dibukukan pada masa
khulafaur Rasyidin. Karena dengan mengetahui bagaimana proses pengumpulan Al-Qur’an
kita dapat mengerti bagaimana usaha-usaha para sahabat untuk tetap memelihara
Al-Quran.
Secara etimologi Al-Quran berarti qira’at berasal dari kata dasar qara’a yang
berarti mengumpulkan dan menghimpun, yaitu menghimpun huruf dan kata yang tersusun
sehingga menjadi qira’ah (bacaan) yang bermaknakan maqru’ (sesuatu yang dapat
dibaca).
Menurut istilah Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril dengan bahasa Arab, diriwayatkan
secara mutawatir, merupakan mukjizat dan membacanya merupakan ibadah.
B. Rumusan Makalah
1.Apa pengertian Nuzulul Qur’an?
2. Kapan Nuzulul Qur’an terjadi?
3. Bagaimana cara turunnya Al
Qur’an? Apa bukti dan hikmahnya?
4. Bagaimana pemeliharaan Al Qur’an
pada masa nabi Muhammad dan para Sahabat?
5. Jelaskan perkembangan tulisan Al
Qur,an
C. Tujuan Makalah
Tujuan penulis membuat makalah ini
adalah untuk mengetahui ilmu nuzulul Quran menggunakan pemahaman islam yang
meliputi turunnya Al Qur’an (nuzulul Qur’an), cara-cara penurunan Al Qur’an,
bukti dan hikmah turunnya Al Qur’an, sejarah pemeliharaan Al Qur’an pada masa
nabi, masa sahabat, dan perkembangan tulisan Al Qur’an dari pertama di
mushafkan sampai sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Nuzulul Qur’an dan Waktu Turunnya
Sebelum
diterangkan pengertian Nuzulul Qur’an, terlebih dahulu perlu dijelaskan arti
kata : Nuzul secara bahasa dan istilah, kemudian diterangkan Nuzulul Qur’an. Kata
Nuzul menurut bahasa mempunyai beberapa arti. Para ulama berbeda pendapat
mengenai arti kata Nuzul, antara lain sebagai berikut :
·
Imam Ar-Raghib
Al-Asfihani dalam kitabnya Al-Mufradaat, kata Nuzul itu mempunyai arti : Al-Inhidar min Uluwwin Ila Safalin (melincur dari atas ke bawah, atau berarti
turun). Contohnya, antara lain firman Allah SWT :
·
Walaqod
anzalnaa ilaika aayaatin bayyinatin.
(Al-Baqarah :99).
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah
menurunkan kapadamu ayat-ayat yang jelas.”
(Q.S. Al-Baqarah :99).
Sesuai
dengan pengertian Nuzul yang baru diterangkan di atas, maka pengertian Nuzulul Qur'an artinya adalah
turunnya Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang petama kalinya biasa
diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang disebut
dengan Nuzulul Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang pertama kalinya merupakan
tonggak sejarah munculnya satu syari'at baru dari agama tauhid yaitu agama
Islam. Sebagai penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya. Al-Qur'an turun
sebagai pemecah kebuntuan di saat bejatnya moral bangsa Arab sudah sampai pada
puncaknya, budaya jahiliyah lagi merajalela, barbarismenya hukum padang pasir
dengan filosofi siapa yang kuat dialah yang menang dan hancurnya tatanan
kemasyarakatan karena tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karena itulah
Allah membuat satu penyelamatan dengan sebuah skenario yang jitu yang
menyelamatkan bangsa Arab dari kehancuran dengan diutusnya seorang nabi akhir
zaman yaitu Muhammad saw.
Menurut tarikh Islam, Al-Qur'an
turun untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad sedang
berkhalwat (semedi) di gua Hira. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya(Al-Qur'an) pada malam kemuliaan"(97:1). Yang dimaksud dengan
malam kemuliaan menurut para ulama adalah malam lailatul qadar. Atau dalam ayat
lain Allah mengatakan: "Haa miim [Demi kitab (Al-Qur'an ) yang
menjelaskan]. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi,
dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan" (44 : 1 - 3).
Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur
kurang lebih 2 km dari kota Makkah. Di gua itulah Muhammad merenung dan
berfikir meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk merubah moral bangsanya
yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah
beliau didatangi Malaikat Jibril yang diutus
oleh Allah untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya, dan saat itu
Muhammad berusia 40 tahun. Yang paling menarik dari proses turunnya wahyu itu
adalah disaat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk iqra(membaca). Jibril
mengatakan: "Iqro yaa Muhammad !" (Bacalah hai Muhammad). Saat itu
Muhammad menjawab: "Maa ana biqori ?" "Apa yang harus aku
baca?".Selanjutnya Jibril membacakan beberapa ayat dari surat Al-Alaq(96)
yang kemudian diikuti oleh Muhammad dengan lancar dan fasih: "Bacalah
dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah Menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya". (96 : 1 - 5)
Inilah ayat yang pertama turun yang menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dan
kerasulan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an
lainnya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Tapi kita perlu ketahui bahwa Al-Qur'an ini benar benar wahyu Allah, bukan
rekayasa bangsa Arab dan bukan hanya untuk bangsa Arab saja. sehingga Al-Qur'an
tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. "Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami yang benar-benar
menjaganya".(15 : 9) Para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan yang dimaksud
dengan "Kami" di sini bahwa Allah juga melibatkan orang-orang mu'min
yang huffadh (hapal) Qur'an untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an.
B. Tahapan dan Cara-cara Turunnya Al Qur’an.
Allah menurunkan alquran
kepada manusia melalui 3 kali tahap penurunan. Yang dimaksud dengan “tahap-tahap turunnya
Al-Qur’an, ialah tertib dari fase-fase disampaikan kitab suci Al-Qur’an, mulai
dari sisi Allah SWT hingga langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Tahap-tahap
diturunkannya Al-Qur’an itu ada tiga fase atau tahapan, seperti yang akan
dijelaskan berikut :
1. Tahap
Pertama (At-Tanazzulul Awwalu).
Tahap
pertama, Al-Qur’an diturunkan/ ditempatkan ke Lauhil Mahfudh. Yakni, suat
tempat dimana manusia tidak bisa mengetahui secara pasti. Semua
orang tidak tau kapan, tangal, bulan, tahunnya berapa ketika turun ?
Ibnu katsir lewat riwayat ibnu khatam:
“Ma min syai’in qodo allah al quran wama qoblahu wama ba’dahu illa bil lauhil mahfudz”
Artinya: “apapun yang di qodo’ Allah sebelum dan sesudah alquran , semuanya itu
di letakkan di lauhil mahfudz dan tak tahu dimana itu letaknya dan tidak
diijinkan siapaun atau tentang lauhil mahfudz.
Adapun jumlahnya sekaligus atau jumlatan wahidatan.
2. Tahap Kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani)
Tahap kedua, Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh
ke Baitul Izzah di langit dunia (سماء
الدنيا). Yaitu langit yang pertama yang tampak ketika dilihat di dunia
ini namun tidak diketahui letak persisinya. Adapun jumlahnya adalah semuanya
(jumlatan wahidatan) pada waktu lialatul qodar. Namun tanggalnya tidak
diketahuai, adapaun bulannya sudah jelas pada bulan romadhon.
Inna anzalnahu fi lailatil al qodri Syahru ar-romadhona alladzi unzila fiihi
alquran. Semuanya ayat tadi itu menunjukkan bahwasannya penurunan alquran dari
lauhil mahfudz ke lanigt dunia yaitu baitul ‘izzah.
3. Tahapan Ketiga
(At-Tanazzulu Ats-Tsaalistu)
Tahapan ketiga, Al-Qur’an turun dari baitul ‘izzah ke rosulallah.Penurunannya
tidak sekaligus, namun diangsur-angsur berdasarkan kebutuhan, peristiwa, atau
kejadian atau bahkan permintaan lewat malaikat jibril. Sebenarnya, malaikat
Jibril telah menyampaikan firman-firman Allah atau Al Qur’an kepada Nabi
Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya
AlQur’an kepada Nabi Muhammad saw.
• Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. tanpa
memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu
telah berada di dalam hatinya.
• Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang
laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Itulah salah satu
metode lain yang digun akan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Qur’ an
kepada Nabi Muhammad saw.
• Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. seperti bunyi
gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat
dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun
di musim yang sangat dingin.
• Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi
Muhammad saw. dengan menampakkan wujudnya yang asli.
Rasulullah saw. senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang diterimanya. Beliau
mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah
disampai kan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan
untuk mengontrol hafalan Al Qur’an Rasulullah saw. Al Qur’an diturunkan dalam
dua periode. Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada
periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 – 622 M)
sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa
itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan
terdiri atas 89 surat. Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah
periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah
(622 – 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan
ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
C. Sejarah Pemeliharaan Al Qur’an pada Masa Nabi dan Sahabat
1. Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pada permulaan Islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf; amat
sedikit diantara mereka yang pandai menulis dan membaca. Kendatipun bangsa Arab
pada waktu itu masih buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat
kuat. Pada masa nabi, Al Qur’an hanya ditulis dalam kulit binatang, batu yang
tipis dan licin, pelepah tamar (korma), tulang binatang dan lain sebagainya.
Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al Qur'an sajalah yang boleh dituliskan,
selain dari Al Qur'an, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari
mulut Nabi, dilarang menuliskannya.
Larangan ini dengan maksud supaya Al Qur'anul Karim itu terpelihara, jangan
campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi.
2. Pada Masa Abu Bakar
Sesudah Rasulullah wafat, para sahabat baik Anshar maupun Muhajirin, sepakat
mengangkat Abu Bakar menjadi Khalifah. Pada awal masa pemerintahannya banyak
diantara orang-orang Islam yang belum kuat imannya. Terutama di Najed dan Yaman
banyak diantara mereka yang menjadi murtad dari agamanya, dan banyak pula yang
menolak membayar zakat. Disamping itu ada pula orang-orang yang mengaku dirinya
sebagai nabi. Kemudian, Abu Bakar memerangi umat islam yang murtad dan yang
tidak mau membayar zakat. Akibat peperangan itu, banyak penghafal penghafal Al
Qur’an yang gugur. Muncullah gagasan dari sahabat Umar untuk mengumpulkan ayat
ayat Al Qur’an menjadi satu.
Gagasan tersebut disetujui oleh Abu Bakar.
Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an itu Zaid bin Tsabit bekerja amat
teliti.
Sekalipun beliau hafal Al Qur'an seluruhnya, tetapi untuk kepentingan
pengumpulan Al Qur'an yang sangat penting bagi umat Islam itu, ia masih
memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain
dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Dengan demikian Al Qur'an seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam
lembaran-lembaran, dan diikatnya dengan benar, tersusun menurut urutan
ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian
diserahkan kepada Abu Bakar.
Mushhaf ini tetap ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal, kemudian dipindahkan
ke rumah Umar bin Khaththab dan tetap ada disana selama pemerintahannya.
Sesudah beliau wafat, Mushhaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, puteri 'Umar,
isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al Qur'an dimasa
Khalifah Utsman.
3. Pada Masa Utsman bin Affan
Dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, pemerintahan mereka telah sampai ke
Armenia dan Azarbaiyan di sebelah timur, dan Tripoli di sebelah barat. Dengan
demikian terlihatlah bahwa kaum Muslimin diwaktu itu telah terpencar-pencar di
Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Kemana mereka pergi dan dimana mereka
tinggal Al Qur'anul Karim itu tetap jadi Imam mereka, diantara mereka banyak
yang menghafal Al Qur'an.
Pada mereka ada naskah-naskah Al Qur'an, tetapi naskah-naskah yang mereka
punyai itu tidak sama susunan surat-suratnya.
Begitu juga ada didapat diantara mereka perbedaan tentang bacaan Al Qur'an itu.
Asal mulanya perbedaan bacaan ini ialah karena Rasulullah sendiripun memberi
kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab yang berada dimasanya, untuk membaca
dan melafazkan Al Qur'an itu menurut "lahjah" (dialek) mereka
masing-masing.
Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi supaya mereka mudah menghafal Al Qur'an.
Tetapi kemudian kelihatan tanda-tanda bahwa perbedaan tentang bacaan Al Qur'an
ini kalau dibiarkan, akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak
diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin.
Maka oleh Khalifah Utsman bin Affan dimintakan kepada Hafsah binti Umar
lembaran-lembaran Al Qur'an yang ditulis dimasa Khalifah Abu Bakar yang
disimpan oleh Hafsah untuk disalin dan oleh Hafsah lembaran-lembaran Al Qur'an
itu diberikanlah kepada Khalifah Utsman bin Affan.
Oleh Utsman dibentuklah satu panitia, terdiri dari Zaid bin Tsabit, sebagai
ketua, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin 'Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin
Hisyam.
Tugas panitia ini ialah membukukan Al Qur'an, yakni menyalin dari lembaran-lembaran
yang tersebut menjadi buku.
Al Qur'an yang telah dibukukan itu dinamai dengan "Al Mushhaf", dan
oleh panitia ditulis lima buah Al Mushhaf. Empat buah diantaranya dikirim ke
Mekah, Syria, Basrah dan Kufah, agar ditempat-tempat itu disalin pula dari
masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman
sendiri, dan itulah yang dinamai dengan "Mushhaf Al Imam".
Sesudah itu Utsman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang
bertuliskan Al Qur'an yang ditulis sebelum itu dan membakarnya. Maka dari Mushhaf
yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin diseluruh pelosok menyalin Al
Qur'an itu.
D. Perkembangan Tulisan Al Qur’an
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman
Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang digunapakai
sehingga sekarang ialah yang selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin
Affan. Pada masa nabi Muhammad SAW sampai Utsman bin Affan tentang pengumpulan
Al Qur’an sudah dibahas diatas. Sesudah sepeninggal Utsman, tulisan Mushaf
mengalami perkembangan perkembangan, antara lain: :
1. Pemberian Harakat (Nuqath al-I’rab)
Sebagaimana telah diketahui, bahwa naskah mushaf ‘Utsmani generasi pertama
adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf
(nuqath al-i’jam) dan harakat (nuqath al-i’rab) yang lazim kita temukan hari
ini dalam berbagai edisi mushaf al-Qur’an. Langkah ini sengaja ditempuh oleh
Khalifah ‘Utsman r.a. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat
mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw.
Tetapi hal tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Gagasan pemberian
harakat dikemukakan oleh Ziyad bin Abihi, beliau memberi tugas kepada Abu
al-Aswad untuk memberi harakat yaitu fathah, kasrah, dhommah, dan tanwin.
Bentuk-bentuk harakat awalnya berupa titik dan berwarna merah. kemudian
diperbaiki lagi oleh murid murid Abu al-Aswad sehingga menjadi bentuk harakat
seperti sekarang.
2. Pemberian Titik pada Huruf (Nuqath al-I’jam)
Pemberian tanda titik pada huruf ini memang dilakukan belakangan dibanding
pemberian harakat. Pemberian tanda ini bertujuan untuk membedakan antara
huruf-huruf yang memiliki bentuk penulisan yang sama, namun pengucapannya
berbeda. Contohnya, (ba), (ta), (tsa) dalam huruf hijaiyyah mempunyai bentuk
yang sama tetapi dibaca berbeda. Nuqath al-I’jam atau tanda titik ini pada
mulanya berbentuk lingkaran, lalu berkembang menjadi bentuk kubus, lalu
lingkaran yang berlobang bagian tengahnya.
Tanda titik ini ditulis dengan warna
yang sama dengan huruf, agar tidak sama dan dapat dibedakan dengan tanda
harakat (nuqath al-i’rab) yang umumnya berwarna merah.
Percetakan Al Qur’an sudah dilakukan
berkali-kali setelah adanya mesin cetak
1. Venesia atau Roma pada kisaran tahun 1499 sampai 1538 M
2. Hamburg pada tahun 1694
3. Batavia pada tahun 1698.
Tapi pencetakan tahun 1924 di Mesir adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena
upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan
Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan
versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.
Kemudian pada tahun 1949, terdapat edisi mushaf yang bernama Makkah
al-Mukkaramah dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah al-Mukarramah. Mushaf ini
mendapat sambutan hangat dari masyarakat arab maupun luar arab. Bahkan Raja
Saudi waktu itu, Abd al-‘Aziz Al-Su’ud memberikan dukungan moril dan materil.
Tiga puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1979, muncul pula mushaf edisi
baru yang dicetak di kota Jeddah. Hingga akhirnya pada tahun 1984 (bertepatan
dengan bulan Muharram 1405 H), pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka
sebuah percetakan al-Qur’an terbesar di dunia, tepatnya di kota Madinah
al-Munawwarah.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Menurut pemahaman islam, Nuzulul Quran secara
istilah ialah turunnya Al-Qur’an untuk yang pertama kali yang biasa di
peringati oleh umat islam yang di kemas
dalam suatu acara ritual. Nuzulul
Quran merupakan tonggak sejarah munculnya satu syariat baru di agama tauhid
yaitu islam. Al-Qur’an turun sebagai pemecah-pemecah kebutuhan di saat bejatnya
moral bangsa Arab sudah pada puncaknya, dan hancurnya tatanan masyarakat karna
tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karna itu Allah SWT membuat suatu
penyelamatan yang menyelamatkan bangsa Arab dari kesesatan dengan diutusnya
seorang nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Menurut tarikh islam, Al-Qur’an turun untuk
pertama kalinya dengan ayat yang pertama pada tanggal 17 Ramadhan di saat Nbi Muhammad
di Gua Hira’ pada saat nabi berusia 40 th. Allah SWT menurunkan ayat-ayat
Al-Qur’an selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT
yang selalu tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. Al-Qur’an diturunkan
dalam 3 fase/ tahapan.
1. Tahapan pertama : Al-Qur’an ditempatkan di
Lauhil Mahfudh, suatu tempat yang manusia tidak mengetahui secara pasti.
2. Tahapan kedua : Al-Qur’an turun dari Lauhil
Mahfudh ke Baitul Izzah di langit dunia, namun tidak di ketahui letak
persisnya.
3. Tahapan ketiga : Al-Qur’an turun dari Baitul
Izzah ke Rosulullah yang diturunkan secara berangsur-angsur berdasarkan
kebutuhan peristiwa/ kejadian.
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yaitu :
·
Periode pertama :
Ayat-ayat Al-Qur’an turun di makkah dan kemudian dinamakan periode makkah, yang
kemudian disebut ayat-ayat makiyah.
·
Periode kedua :
Ayat-ayat Al-Qur’an turun di madinah dan kemudian dinamakan periode manidah,
yang kemudian disebut ayat-ayat madaniyah.
B. Saran
Akhirnya makalah yang berjudul Nuzulul Quran dan pemahaman
islam ini telah selesai dan semoga makalah yang sedemikian singkat ini bisa
bermanfaat bagi kita semua baik itu bagi kalangan Mahasiswa atau Pelajar Umum.
Sehingga bisa memahami tentang Nuzulul Quran dengan menggunakan konsep
pemahaman islam.